Ayah, bagi sebagian orang diartikan sebagai sosok kepala keluarga pemikul terbesar tanggung jawab serta teladan untuk keluarganya. Ayah juga sesosok pria yang pertama menjadi laki-laki yang disayang oleh anak-anaknya. Seorang pekerja keras yang bersedia menukarkan posisi kepala di kaki dan kaki di kepala.
Namun, apa yang sering dikatakan oleh kebanyakan orang tentang definisi ayah tidak pernah aku rasakan. Malam ini tepatnya, ketika aku terfikir untuk menumpahkan segala keluh kesahku disini untuk pertamakalinya. Ya .. Maafkan aku ayah, mungkin aku terlalu lancang untuk berbicara tentangmu di sebuah halaman elektronik. Tapi ayah, sungguh mengapa engkau begitu mengabaikan keluargamu? Kasih sayangmu bahkan belum pernah aku rasakan hingga saat ini, kasih sayang seorang ayah pada putrinya yang sering ku perhatikan dari teman-temanku? Ayah, sejujurnya aku begitu menyayangimu tapi aku tak tau bagaimana untuk menunjukan sayangku sebagai anakmu. Tapi jangan salahkan aku atau keempat saudariku ayah, karena kami tak pernah diajari untuk menyayangi orangtua laki-laki yang disebut ayah. Ayah, baktiku saat ini hanya sebatas membukakan pintu saat kau pulang bekerja.
Ayah, diusiamu yang semakin menua ini mengapa egomu semakin besar? Semenjak tempat bekerjamu diluruh-rantahkan, tepatnya 3 bulan yang lalu mengapa engkau semakin menjauh dari kami, keluargamu? Mengapa engkau hanya terima nasib tanpa berusaha lebih agar keluargamu tidak kesusahan dalam lapar? Dari dulu tak pernah aku mendengar cerita-cerita hidupmu. Tak pernah aku mendapatkan janji yang kau ucapkan ayah. Setidaknya aku ingin menerima telepon darimu ketika aku berpergian jauh untuk waktu yang lama. Menanyakan kabar serta perasaanku ditempat itu.
Ayah, sampai saat ini aku tak pernah tau apasaja yang ada dipikiranmu. Apakah kau memikirkan anak-anakmu? Apakah kau peduli pada kami? Apakah kau ingin bercengkrama dipagi hari bersama keluargamu di pelataran rumah.
Ayah, begitu banyak misteri dalam hidupmu. Aku dan keempat putrimu sesungguhnya baru memaknai engkau sebagai sesosok laki-laki yang menikahi ibu kami, yang tak pernah ada disaat kami terbangun dan hanya melihat pakaian kotormu di keranjang pakaian.
Ayah, bila hanya urusan uang yang menjadi penghalang curahan kasih sayangmu. Maka kami ikhlas untuk membiarkanmu bekerja dirumah dengan pendapatan seadanya. Tapi ayah, janganlah engkau menghindar dari kami di rumahmu sendiri. Berubahlah demi kami untuk menjadi sesosok ayah yang mampu mengayomi dan melindungi keluargamu. Jadilah sesosok yang lebih terbuka dan menyenangkan. Janganlah engkau terlalu asyik dengan duniamu sendiri ayah, dunia yang membuatmu merasakan selalu hidup membujang tanpa dibebani tanggung jawab.
Akhirnya, aku juga yang harus mengerti bahwa aku tidak dapat memilih seperti apa ayah dan ibuku kelak ketika aku dilahirkan. Namun, setidaknya aku dapat memilih sesosok ayah untuk anak-anakku kelak seperti yang aku inginkan dan menjadi ibu yang dapat dibanggakan.
Semoga Allah memberikanmu kesahatan dan barokah-Nya untukmu Ayah..
Amiin..